Hello my blog!
Wah, kalau diperhatiin udah lama banget ya
ga nge-posting di blog lagi. Hahaha. Maklum... kelas XI ini bener-bener waktu
sibuk-sibuknya dan harus pinter-pinternya ngebagi waktu. Saya harus fokus
ngurusin ekskul-ekskul, OSIS, belajar, les, dan...B-NEXT. Hmm, mungkin ada
diantara kalian yang baca blog ini gatau apa itu B-NEXT dan mungkin juga ada
beberapa yang udah tau. Jadi, belakangan ini saya juga disibukkan dengan
acara-acara B-NEXT GENERATION LEADERSHIP COMPETITION. B-NEXT ini tuh merupakan
ajang kompetisi kepemimpinan dengan misi untuk menjaring putra-putri terbaik
kota Bogor sebagai pemimpin masa depan yang berkarakter dan amanah. B-NEXT ini
merupakan suatu terobosan dan inovasi baru yang diadakan oleh Paguyuban Bogor,
pimpinan Kang Bima Arya. Dalam perjalanannya, B-NEXT ini menurut saya benar-benar
menjaring bibit-bibit unggul individu dengan berbagai karakter kepemimpinan.
Untuk menyaring para pesertanya, seorang peserta B-NEXT harus melewati beberapa
tahapan. Ya, memang untuk menjadi seorang pemimpin yang baik itu diperlukan
perjuangan yang sangat besar. Tidak hanya perjuangan, melainkan waktu, tenaga,
bahkan mungkin biaya.
TAHAP 1 (Presentasi Proposal dengan tema
Jika Aku Menjadi Pemimpin Masa Depan)
Foto dengan
keempat kelompok dari SMA Negeri 6 Kota Bogor
Inilah awal perjuangan saya mengikuti
B-NEXT beserta teman-teman saya yang berasal dari SMA Negeri 6 Kota Bogor.
Mendengar tugas yang diberikan pada tahap 1 membuat proposal dengan tema Jika
Aku Menjadi Pemimpin Masa Depan, saya langsung tertarik dan benar-benar
bersemangat untuk membuat tugas tersebut bersama teman-teman kelompok BINGO,
kami memanggil nama kelompok kami. Walaupun nama tersebut dibentuk dengan tidak
sengaja, namun kami menaruh harapan dan makna yang mendalam, yakni Bright Intellectual Generation of Six.
Pada saat proses pembuatan proposal tersebut, kelompok kami mengalami banyak
perdebatan dan ide-ide. Ya, akhirnya…setelah menempuh diskusi yang cukup
panjang, kami pun memiliki ide untuk menuangkan gagasan-gagasan kami. Sesuai
dengan jumlah anggota kelompok, kami pun memiliki 10 bahasan inti yang menjadi
masalah konkrit dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di Indonesia ini. Ada
yang membahas mengenai lingkungan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, politik,
dsb. Setiap orang menuangkan ide-idenya dalam bidang-bidang yang mereka usung.
Sedangkan untuk tahap finishing,
seluruh anggota mengeluarkan pendapatnya dan kami pun memutuskan mana yang
ditambahkan atau mana yang dikurangi agar proposal tersebut menjadi ‘pas’
isinya.Tidak hanya terpaku dari hasil kesepakatan kelompok, tetapi kami pun
juga berkonsultasi dengan beberapa teman kami yang kami wawancara dan mintai
pendapat serta guru di sekolah, yakni Bu Laksmi-Guru PLH dan Bu Siti
Nurhasanah/ Bu Nunuy-Guru Sejarah. Pada tahap 1 ini, kami juga mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan waktu antar anggota, karena anggota kelompok BINGO
tidak hanya berasal dari satu kelas saja, melainkan sekelompok perempuan yang berasal dari kelas XI IPA 3, XI IPS 1,
XI IPS 3 dan kenyataannya memang jam belajar kelas IPS di sekolah kami lebih
sebentar dibandingkan jam belajar kelas IPA. Tetapi, masalah tersebut tidak
membuat kami menyerah. Kami tetap bersemangat tanpa peduli lelah, tanpa terpaku
pada masalah yang kami hadapi sampai akhirnya tibalah hari presentasi proposal
tersebut.
Pada hari presentasi proposal, kelompok
kami merasa deg-degan karena tidak sedikit diantara kami yang benar-benar baru
pertama kali merasakan presentasi didepan umum, maksudnya bukan didepan
guru/teman sekelas tetapi didepan orang awam yang mungkin kita belum pernah
saling bertemu. Sesampainya kami di Paguyuban Bogor, kami mereview isi materi
presentasi kami dan saling menyemangati agar tidak merasa nervous. Kami pun menunggu giliran hingga akhirnya kami dipanggil
ke ruangan atas untuk presentasi proposal. Tetapi, karena waktu yang diberikan
hanya sekitar 10 menit, jadi kami berunding dan memutuskan presentasi tersebut
hanya dibawakan oleh satu orang, yaitu saya (R.Khairunnisa T.N). Keputusan
tersebut bukan tidak beralasan dan bukan karena mereka mengandalkan semua itu
kepada saya, tetapi karena alasan efisiensi waktu. Coba kita bayangkan, untuk
pembukaan dan perkenalan dibawakan oleh satu orang, untuk slide pertama
dibawakan oleh orang kedua, dst berapa lama waktu yang dihabiskan dan menurut
kami itu sangat tidak efektif. Alhamdulillah, saya bisa membawakan presentasi
tersebut dengan sebaik yang saya bisa dan seluruh poin-poin yang menjadi inti
proposal kami dapat tersampaikan sesuai dengan waktu yang diberikan. Setelah
presentasi, kami pun mendapat beberapa pertanyaan mengenai hukuman mati untuk
para koruptor, bentuk-bentuk korupsi yang pernah dilakukan pelajar, dsb.
Alhamdulillah kami menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan semangat. Ya,
semangat itulah yang selalu saya bilang kepada teman-teman saya. Saya selalu
bilang “Udah pede aja, yang penting kita tuh harus semangat dan lakuin yang
terbaik. Insyaallah dikasih hasil yang terbaik juga”. Setelah menyelesaikan
tugas pada hari itu, kamipun segera pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa hari kemudian…. Hmm… kamipun
tetap menjalani hari-hari kami seperti biasa, yaitu fokus belajar. Saat itu, di
sekolah kami, kami sedang disibukkan dengan kegiatan berlatih dan mempersiapkan
drama Bahasa Indonesia dan merangkai gerakan untuk Tes Senam Kelompok. Sepulang
dari latihan drama Bahasa Indonesia, Chika Meiraniadhanisa (salah satu anggota
kelompok kami) mendapat telfon dari Paguyuban Bogor bahwa kelompok BINGO lolos
ke tahap berikutnya, yaitu tahap 2. Tak lama, dia pun mengabarkan berita
tersebut ke seluruh anggota kelompok kami,termasuk saya. Saya merasa bersyukur
dan semakin terpacu untuk ke tahap kedua.
TAHAP
2 (Outbond Problem Solving di Lapangan Sempur)
Saat berbaris di Balaikota Bogor
Berkumpul di Balaikota Bogor
Menunggu Keberangkatan ke Lapangan Sempur
Sambutan dari Bapak Ade Syarif
Untuk tahap ke-2 ini sebenarnya bernama outbond, tetapi
setelah saya mengikuti kegiatan tersebut menurut saya kegiatan itu adalah
outbond problem solving. Outbond problem solving ini diperkirakan diikuti oleh
ratusan atau malah sampai ribuan orang, saya kurang tau berapa jumlah peserta
pastinya. Yang pasti, saat itu Lapangan Sempur menjadi penuh dengan Lautan Manusia.
Hahaha. Tetapi, untuk sampai di Lapangan Sempur kami harus berkumpul terlebih
dahulu di Balaikota Bogor jam 07.00. Sesampainya kami di Balaikota, kami segera
konfirmasi untuk registrasi ulang dengan panitia lalu duduk-duduk dengan
memegang bendera kelompok kami, bendera BINGO sambil menunggu kegiatan dibuka
oleh Ketua Umum Paguyuban Bogor, Kang Bima Arya dan Walikota Bogor yang
diwakili oleh Asisten Tata Praja Kota Bogor (Bapak Ade Syarif). Mengenai
bendera BINGO, saya mau ceritakan sedikit saja cerita tentang bendera tersebut.
Jadi, untuk outbond problem solving di Lapangan Sempur ini, setiap kelompok
diwajibkan untuk membawa bendera kelompok masing-masing dan itu wajib. Nah,
berkenaan dengan instruksi tersebut, akhirnya saya dan kelompok saya pun berunding
untuk membuat bendera tersebut. Awalnya, kami meminta salah seorang anggota
kelompok kami, yaitu Putri Andhita membuat desain bendera kelompok karena kami
tahu bahwa ia sangat gemar menggambar, melukis, dan mendesain. Setelah ia
menyelesaikan desainnya, kami pun sepakat untuk memakai desain buatannya dan
langsung ke salah satu tempat percetakan untuk membuat bendera tersebut. Namun,
pada saat hari H itu tiba, ketika kami buka bendera tersebut…HA? Kami semua
kaget, kenapa benderanya jadi gambar itu? Kemarin kami sudah bilang kalau kami
tidak mau menggunakan gambar itu, tetapi menggunakan desainnya Putri. Awalnya
kami semua kurang merasa nyaman dengan desain bendera tersebut, tetapi
yasudahlah kami pun menerima nya dan malah saling guyon. “Eh itu foto gue loh,
eh itu foto gue loh *kalo udah kurus* hahaha”. Mengenai pembayarannya, kami
berunding dan saya mengusulkan untuk patungan, tetapi sesuai dengan kemampuan.
Jadi, biaya ratusan ribu untuk membuat bendera tersebut kami pikul bersama
dengan tidak memberatkan satu sama lain. Misalkan, untuk anggota yang kurang
mampu membayar kami berikan range antara Rp 5.000-Rp 15.000, untuk anggota yang
ekonomi sedang rangenya antara Rp 20.000-Rp 25.000, untuk anggota yang ekonomi
berlebih bisa > Rp 30.000. Alhamdulillah semuanya setuju dan akhirnya kami
bisa melanjutkan perjalanan kami menuju Lapangan Sempur. Disana, kami
mendapatkan beberapa tantangan, antara lain: Mengisi angka-angka 1-9 dalam
kotak 3x3 dan harus jumlahnya 15 baik ke arah horizontal, membuat desain kerangka
untuk tempat jatuhnya telur agar telur yang digantung dapat jatuh ke bawah
tanpa retak/hancur, dan beberapa permainan outbond problem solving lainnya.
Intinya, dalam outbond problem solving itu kita harus bisa bekerjasama satu
sama lain, saling mendengarkan pendapat/masukkan antar anggota, membuat
keputusan bersama agar dapat menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut.
Setelah kami menyelesaikan tantangan-tantangan dalam outbond problem solving
tadi, kami pun beristirahat sambil melepaskan rasa lelah dan panasnya matahari
yang kami rasakan. Berikut ini adalah cuplikan foto yang kami ambil :
Setelah Outbond Problem Solving
Saat istirahat di Lapangan Sempur
Sambil beristirahat, ada tantangan lain
yang harus kami hadapi, yaitu setiap sekolah dipersilakan untuk berlomba-lomba
menampilkan yel-yel terbaiknya yang disuarakan oleh para supporter beserta
peserta B-NEXT. Supporter ini juga harus memiliki jiwa kompetitif, kreatif,
inovatif, dan yel-yel yang dinyanyikan pun harmonisasinya dinilai oleh dewan
juri untuk dipilih 5 supporter terbaik. Alhamdulillah, SUPERSIX (julukan untuk
para supporter SMAN 6 Bogor), selalu siap untuk mendukung dan menyuarakan
yel-yel SUPERSIX nya dihadapan dewan juri dan kami pun bersyukur karena SUPERSIX
dapat menjadi salah satu dari 5 supporter terbaik. Alhamdulillah dan tetap
semangat !!
Lomba Supporter (1)
Lomba Supporter (2)
SUPERSIX ! (Supporter SMAN 6 Bogor)
TAHAP 3 (Benah Kota)
Wild Card Team
Untuk
tahap ke-3 ini, sayang sekali saya tidak bisa melanjutkan tantangan dan
instruksi yang diberikan oleh dewan juri bersama teman-teman anggota kelompok
BINGO lagi, ya, karena hanya saya yang dipilih untuk lolos ke tahap berikutnya,
yakni tahap BENAH KOTA. Oleh karena hanya saya yang lolos dari kelompok saya,
saya pun dimasukkan kedalam kelompok gabungan (wild card) oleh dewan juri dari Paguyuban Bogor bersama teman-teman
yang berbeda-beda SMA, ada Angel dan Laras dari SMA Regina Pacis, Munadzir dari
SMAN 1, Nabilla dan Prasasti dari SMA Rimba Madya, Cikal dari SMKN 1, Afifah
dari SMA Wikrama, Reza dari SMA Kamandaka, dan Sabil dari SMAN 6 juga namun
sebelumnya berbeda kelompok dengan saya. Sebelum turun langsung dalam kegiatan
BENAH KOTA, kami diwajibkan untuk berkumpul di Stasiun KA Batutulis untuk
mempresentasikan hasil wawancara kelompok kami dengan masyarakat tentang
permasalahan sampah di kota Bogor, pemisahan sampah, dsb. Pada saat itu,
perwakilan dari kelompok Wild Card
yang mempresentasikan adalah Munadzir dari SMAN 1 dan saya sebagai operator.
Pada hari itu, Kang Bima Arya pun juga mengulas sedikit tentang Stasiun KA
Batutulis ini yang memang merupakan stasiun tertua yang ada di Kota Bogor
karena sudah berdiri sejak zaman Belanda menjajah dahulu. Beliau juga
memberikan sedikit tips-tips cara berkomunikasi, menyampaikan presentasi, dll. Akhir
kegiatan pada hari itu yakni dengan menginformasikan bahwa kami mendapat
tantangan baru untuk membuat proposal kegiatan BENAH KOTA dan kelompok Wild Card mendapatkan daerah Kelurahan
Mulyaharja, Kelurahan terbesar dan terluas di Kota Bogor. Awalnya, kami merasa surprised karena mendapatkan wilayah
yang sangat luas. Tetapi, kami tetap optimis untuk merancang dan menjalankan
kegiatan BENAH KOTA sebaik mungkin. Menurut opini saya pribadi, kegiatan BENAH KOTA
itu sangat menarik dan saya berterima kasih sekali kepada Paguyuban Bogor yang
telah memfasilitasi kegiatan tersebut untuk menyalurkan cita-cita saya. Sejak
lama, saya selalu bercita-cita ingin menjadi seseorang yang dapat mengubah dan
berbuat banyak untuk Negara ini agar menjadi lebih baik. Ya, walaupun ini
cakupannya masih di Kelurahan, tetapi saya merasa senang mendapatkan pengalaman
yang sangat berharga sekali untuk mewujudkan impian-impian saya di masa depan.
Aamiin.. J
Wild Card (Random Winner) di Stasiun
KA Batutulis
Saatnya BENAH KOTA dimulai..
Pertama kami awali BENAH KOTA kelompok Wild Card dengan mempresentasikan
proposal kegiatan BENAH KOTA kami di Kelurahan Mulyaharja dengan saya sebagai
penyaji. Alhamdulillah, setelah selesai presentasi kami mendapat pujian dari
dewan juri. Tetapi, hal itu tidak membuat kami terlena, karena sukses atau
tidaknya presentasi kami adalah ketika kami terjun langsung ke lapangan.
Awalnya, panitia menginformasikan bahwa pada saat presentasi di Paguyuban dan telah
disetujui proposalnya maka akan langsung diberikan uang sebesar Rp 1.000.000
untuk melaksanakan program BENAH KOTA di masing-masing kelurahan tetapi pada
hari H ternyata tidak. Sebenarnya, pada saat kami mendapat tugas pertama kali
sewaktu di Stasiun KA Batutulis, kami sudah langsung survey-survey harga tempat
sampah ke Pasar Bogor, lalu survey harga tanaman obat, tanaman pemberantas
sarang nyamuk, dan keperluan-keperluan lainnya yang kami butuhkan untuk program
BENAH KOTA 3R, Pemberantasan Sarang Nyamuk, dan Pembuatan Lahan Tanaman Obat.
Dikarenakan kami ini kelompok gabungan, sulit untuk bertemu dan menyesuaikan
waktu akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan uang anggota dulu. Ya
gaapalah. Ujung-ujunya, kita diwajibkan mengambil uang BENAH KOTA di Pulo
Geulis. Nah, jujur aja saya baru denger daerah Pulo Geulis. Hari itu, saya
bersama Cikal yang ditugaskan oleh kelompok kami untuk ke Pulo Geulis tersebut
dank arena kami masih belum tau pasti dimana lokasinya kami pun berangkat
pagi-pagi. Karena sampai duluan dan acara belum dimulai, tiba-tiba saya
dipanggil untuk mempersiapkan sambutan sebagai perwakilan peserta B-NEXT
bersama Christopus (kalau tidak salah, hehe). Awalnya, deg-degan dan agak nervous,
gatau juga mau ngomong apa. Lalu, ya saya sampaikan aja apa yang ada di kepala
saya. Hahaha.
‘Dapet
uang’ euy. Hahaha
B-NEXT..B-NEXT B-NEXT B-NEXT WE CAN !
Setelah selesai mengikuti acara di Pulo
Geulis, akhirnya, beberapa hari kemudian kami memulai program BENAH KOTA
kelompok kami. Inilah foto-foto yang kami ambil :
Penanaman Tanaman Pemberantas Sarang Nyamuk dan
Tanaman Apotek Hidup
Sosialisasi Manfaat Tanaman Apotek Hidup kepada Warga
Sosialisasi Apotek Hidup dengan Warga
Pokoknya dalam BENAH KOTA ini kita tuh
bener-bener ngerasain gimana susahnya terjun langsung ke lapangan, kita
bener-bener dapet pengalaman yang berharga banget! Hmm.. ga nyesel deh saya
sampe bulak-balik masuk angin dari rumah ke Mulyaharja, balik lagi, hampir tiap
hari selama satu bulan full. Tapi, ya pasti ada aja kendalanya. Kendala yang
dialami saat BENAH KOTA itu :
1. Ada anggota yang ga pernah hadir,
ditelfonin, dismsin ga diangkat ga dibales dan akhirnya kita anggep dia
ngundurin diri karena sampai hari terakhir BENAH KOTA dia ga juga dateng
(Munadzir).
2. Tiba-tiba Laras dan Angel ngundurin diri
karena mereka ga bisa ngebagi waktu antara ngerjain tugas di sekolah dan B-NEXT
ini.
3. Cikal yang banyak acara jadi panitia di
SMKN 1.
4. Banyaknya ulangan dan tugas di sekolah
jadi ngebuat pusing kepala mana yang mau diselesaikan terlebih dahulu.
5. Mengumpulkan warga.
6. Beda pendapat antar anggota.
7. Diharkosin sama juri. Wah? Iya, jadi
misalkan kita janjian jam berapa nah terus pas kita udah dateng semua jurinya
malah ga dateng padahal udah nyiapin semua-semuanya. Tapi pernah sekali sih
kebalikannya, ada jurinya tapi yang dateng hanya saya dan prasasti aja. Hahaha.
Ya, mungkin sekilas aja kali ya tentang
BENAH KOTA Wild Card di Kelurahan
Mulyaharja.
TAHAP
4 (Leaders Camp)
Alhamdulillah banget bisa lolos sampai ke
tahap 4, yaitu Leaders Camp. Leaders Camp ini akan diadakan di Makati tanggal
29-30 Juni 2012. Ya, besok tepatnya. Persiapan saya untuk mengikuti ini ya
makan yang banyak, jaga kesehatan aja, ga muluk-muluk laah..Di leaders camp
nanti katanya acaranya outbond kepemimpinan, kalau untuk gambaran gimana
acaranya nanti ya mungkin seperti outbond-outbond yang pernah saya/kalian ikuti
tetapi ditambah dengan pembekalan materi kepemimpinan. Insyaallah, untuk tahap
4 ini saya tetap akan semangat dan memberikan yang terbaik untuk semuanya
terutama keluarga, teman-teman, dan guru-guru yang telah mendukung saya selama
ini untuk tetap eksis dalam B-NEXT. Harapan saya, semoga saya dapat lolos ke
tahap berikutnya untuk menjadi THE NEXT LEADER karena saya tetap ingin
menantang kemampuan kepemimpinan saya untuk memperbaiki dan berbuat lebih
banyak lagi untuk orang banyak, Negara saya, dan khususnya kota Bogor. Tetap
dukung saya yaaa untuk tetap lanjut ke final ! J
B-NEXT………B-NEXT B-NEXT B-NEXT WE CAN !



























Tidak ada komentar:
Posting Komentar